Selasa, 16 Oktober 2012

Siapakah saya ??

Setiap manusia selalu memiliki masalah,mulai dari akar, jenis hingga alternatif-alternatif  solusinya, mungkin hanya mayat atau orang gila saja yang tidak punya masalah.

Coba kita lihat, kita amati wajah-wajah manusia sekarang yang sepertinya mudah terlecut amarah dan agresif, mudah tersinggung, membenci satu sama lainnya. Ada yang membenci dirinya sendiri, membenci teman, saudara bahkan ada pula yang sampai membenci Tuhan.

Tidak ada manusia yang 100% terbebas dari problematika kehidupan, setiap dari kita memikul beban sekaligus tantangan hidup masing-masing, yang miskin dihimpit dengan biaya-biaya hidup yang kian menjulang, yang kaya ditindih keresahan oleh pelbagai kecurigaan dan ketakutan bilamana hartanya menjadi sasaran kejahatan maupun kekerasan.

Seorang anak menatap kosong langit-langit kamar dan sesekali berbicara dengan kekosongan menunggu kehadiran orangtuanya yang tak kunjung pulang karena dipenjara segudang kesibukan pekerjaan yang memasung batas kasih sayang orang tua dan anak.

Tidak saja di sini, di Jepang sekalipun setiap individu menghadapi tantangan serupa, banyak masyarakatnya melakukan harakiri karena tak kuasa menahan laju depresi. Masyarakat Afrika berjuang melawan ganasnya virus HIV yang kian merajalela serta kemiskinan yang tak kunjung usai.

Bila kita pahami lebih dalam, persoalan hidup bisa menjadi beban berat yang membelit laju langkah kita, membayangi dan memasung senyum bahagia seseorang, namun masalah juga bisa menjadi selayaknya sahabat terbaik kita, ia memberikan kita cerminan-cerminan siapa sejatinya diri kita. Seberapa kuat serta tegar kita menghadapi kekecewaan takkala kita ditinggal pergi atau dikhianati orang yang kita sayangi, seberapa tangguh dan sabar ketika kebencian mulai menyerang kekuatan cinta kasih dst.

Hati dan jiwa yang tenang menghasilkan pengendalian diri yang luarbiasa, untuk meredam jeritan perihnya hati.

Sekuat tenaga untuk menutup amarah, setangguh mungkin untuk menerima dan menyadari bahwa kenyataan tidak selalu seperti yang kita bayangkan.

Kita semua terlahir karena kita kuat, kita hebat, seperti ketika ratusan juta sperma berlomba mencapai rumah rahim, dan pada akhirnya, hanya satu yang berhasil melewati tantangan itu, yaitu kita!!.

Masalah menghadiahkan kita beberapa perlengkapan hidup dalam bertahan menghadapi berbagai kesulitan mengukur sejauh mana kita mampu berjalan, atau bangkit kembali ketika terjatuh.
Mengutip kalimat Dranath Tagore dalam buku The Heart of God, ia mengatakan " let this be my last word, that I trust in you, love and faith ", keyakinan dan cinta kasih dalam menghadapi segala hal adalah kendaraan terbaik dalam menyusuri kesulitan kehidupan.
Berhentilah meneriaki setiap kesulitan yang datang, ia datang membawa bermacam hadiah terbaik untuk jiwa yang tangguh dan indah.

Minggu, 14 Oktober 2012

Saya Tidak Mempunyai " Kemaluan "

Dunia semakin canggih dan maju, peradaban dan teknologi sedikit demi sedikit merubah tata nilai dan keyakinan setiap orang. Orang dengan latar belakang apapun, sekarang tanpa rasa malu merubah nilai dan keyakinan mereka agar dianggap sebagai produk muktahir dan modern.
Seorang remaja menghapus sistem nilai " bukan muhrim dilarang berpegang tangan" lalu mengubah statusnya dengan berpacaran agar dianggap temannya sebagai pribadi yang tidak jadul dan kuno.
Seorang laki-laki paruh baya rela mengikuti pedicure, creambath dll agar tetap maskulin sehingga dalam dirinya tercipta konsep sebagai pria metroseksual.
Saya jadi teringat ketika suatu waktu menjumpai teman yang notabene berasal dari daerah yang bukan perkotaan( maaf bukan bermaksud membuat dikotomi antara desa dan kota, dan kota lebih baik dan maju).
Terkesan menggelikan ketika ia berpenampilan ala changcuter namun dalam penilaian saya gaya dan penampilan tersebut tidak sesuai dengan dirinya.
Itu mungkin belum seberapa dibandingkan dengan beberapa postingan status remaja saat ini yang tanpa malu mengupdate status dengan kata-kata sumpah serapah, makian atau bahkan hujatan. Di benak mereka ternyata tidak ada lagi rasa malu bahwa apa yang mereka posting dibaca banyak orang.
Tidak hanya remaja saja yang seperti itu, saya, pun pernah mendapati salah satu friend list perempuan mengunggah fotonya dan membiarkan dadanya terbuka, mungkin saya munafik, tapi ketika saya melihat pose tersebut saya lantas meremove dari daftar friendlist, lebih parah juga ternyata.
Nilai dan moralitas  sekarang memang berubah sangat cepat, tepat seperti yang pernah diucapkan Tung Desem Waringin di salah satu seminarnya, perubahan itu cepat dan sekejab, tergantung pada orang bagaimana merubah dirinya. Orang baik bisa berubah menjadi buruk, dan yang burukpun juga bisa menjadi sebaliknya,menjadi pribadi lebih baik dan luarbiasa.
Memang kita tidak hidup di era megalithikum, semua tampak bebas. Kita harus ingat bahwa yang merubah itu adalah pengetahuan dan ilmu positif yang membuat manusia menjadi lebih well educated atau terpelajar.
Saya tidak bermaksud menghakimi bahwa orang yang tidak mempunyai " kemaluan " tersebut merupakan produk gagal dari majunya ilmu pengetahuan dan teknologi.
" Kemaluan" itu tumbuh dari hati dan pikiran, pengetahuan yang baik akan membuat kita lebih berhati-hati dalam berpikir dan merasakan, ini yang mungkin sudah tidak banyak diajarkan di sekolah, sebagai contoh tentu anda masih mengingat betul peristiwa tawuran akhir-akhir ini, yang merenggut korban jiwa. Ironis bukan? Institusi yang diharapkan para orang tua bisa mencetak generasi yang berpendidikan namun justru sebaliknya.
Kembali kepada " kemaluan ", kemaluan memang tidak diajarkan, ia akan tumbuh otomatis ketika peningkatan kadar pengetahuan dapat diterapkan dalam kehidupan. Pengetahuan tidak hanya lahir melalui sekolah, namun juga dari proses pengalaman hidup yang menyenangkan maupun yang mengecewakan.
Saya masih mengingat, ketika sebelum mencapai dan berhasil sebagai pekerja tetap abdi negara, saya juga mengalami masa tidak mempunyai kemaluan dalam hidup. Saya masih serabutan,mempunyai 1 atau 2 lembar uang limapuluh ribuan dari jerih payah sendiri terasa luarbiasa. Saat itu saya harus merasa tidak boleh malu ketika menjajakan koran dari setiap orang yang turun dari kendaraan umum, menyanyikan lagu-lagu di depan mereka yang asyik bermalam minggu di teras rumah atau bahkan ketika mengantar pesanan minyak tanah yang saya ikat di sepeda motor hadiah ibu ketika pensiun. Saya tidak boleh memiliki kemaluan untuk melakukan hal yang terbaik untuk memperkaya pengalaman, pengalaman positif maupun negatif, semua memberikan pembelajaran yang baik jika kita mengambil makna dan hikmahnya.
Proses saya tidak memiliki " kemaluan " tersebut adalah peristiwa yang sangat berarti, ibarat tangan Tuhan tengah membawa tubuh saya di tungku api cetaknya, memasukkan tubuh ini dalam jilatan api, kemudian beberapa kali ditempa, dijepit lantas diguyur dengan segala ujicoba untuk menghasilkan sebuah karya yang layak dan siap menghadapi jilatan api kehidupan yang menguras pikiran, tenaga dan perasaan, dan pada pengalaman ini juga akan terjadi pada mereka yang senantiasa melihat dan memaknai proses pencetakkan ini menjadi reka cipta manusia yang tidak mudah mengeluh dan patah arah.
Hingga detik inipun saya juga percaya bahwa saya masih berada dalam tungku Tuhan, selalu dalam proses pencetakkan hingga benar-benar matang dan indah.
Bagaimana anda memaknai proses ketika anda tidak memiliki " kemaluan ?"

Sabtu, 06 Oktober 2012

BELAJAR ??

Sejak dulu hingga sekarang masih banyak dari kita belajar hanya ketika akan menghadapi ujian saja, padahal dengan cara belajar seperti ini, anda akan lebih banyak menemui hambatan, baik secara fisik maupun konsentrasi.
Secara fisik anda harus kuat menahan lelah ketika rasa mengantuk mulai menghampiri anda,hal ini akan mengganggu konsentrasi anda secara lebih mudah.
Konsentrasi adalah salah satu faktor utama bagi manusia dalam proses belajar, tanpa konsentrasi yang baik apa yang anda pelajari hanya akan seperti lalu saja, miskin pemahaman dan pengertian sehingga belajar anda akan terasa sia-sia, hal ini bisa dilihat seperti :
1. Kesulitan mengingat materi yang anda pelajari
2. Anda susah membuat simpulan atas materi tersebut
3. Anda tidak bisa membuat alternatif-alternatif pertanyaan atas materi tersebut.
4. Tidak tersisa pengertian dan pemahaman baru.
Add caption
Beberapa hal tesebut adalah konsekuensi hasil dan gaya belajar yang tidak efektif, dan ironisnya tidak kita sadari. Sesuai pengertian belajar, yaitu membuat kita TAHU dari sebelumnya tidak, membuat kita BISA daripada sebelumnya TIDAK BISA .
Bagaimanakah agar kita bisa belajar secara lebih baik?
Prinsip utama dari belajar adalah adanya " mental readiness " yaitu kesiapan dari diri untuk menerima dan mengikuti. " hal baru " atau " pengetahuan baru ", tanpa kesiapan tersebut anda tidak bisa belajar dengan baik, ini berkaitan dengan minat dan motivasi anda serta pandangan-pandangan anda atas apa yang akan anda pelajari, " saya susah mengingat istilah latin dalam pelajaran biologi " , " saya benci pelajaran berhitung " dst.
Pandangan tersebut justru akan menghambat anda dalam belajar. Berikut beberapa tips penting dalam belajar
1. Atur dan rencanakan waktu yang sesuai, perhitungkan dengan materi yang banyak membutuhkan penyelesaian lebih lama atau tidak.
2.Biasakan membuat catatan-catatan sederhana guna membantu mengingat materi, ingat ini hanya catatan sederhana buka meringkas, sesuaikan dengan gaya anda sendiri dalam mempermudah mengingat.
 3.Biasakan pula untuk membuat analisa dan pertanyaan atas materi tersebut, ini akan melatih anda bisa berpikir deduktif dan kritis, jangan lupa, anda juga berusaha membuat alternatif jawaban dari pertanyaan yang telah anda buat.
 4.Belajarlah dengan kondisi senyaman mungkin, ketika anda mulai susah mengingat atau memahami, istirahatlah sejenak, itu tanda konsentrasi anda mengalami kelelahan.
5.Hindari belajar terlalu banyak dalam rentang waktu yang singkat, ini hanya akan membuyarkan materi yang anda pelajari sebelumnya.
6.Biasakan belajar SEDIKIT namun SERING, daripada BANYAK namun JARANG.