Minggu, 14 Oktober 2012

Saya Tidak Mempunyai " Kemaluan "

Dunia semakin canggih dan maju, peradaban dan teknologi sedikit demi sedikit merubah tata nilai dan keyakinan setiap orang. Orang dengan latar belakang apapun, sekarang tanpa rasa malu merubah nilai dan keyakinan mereka agar dianggap sebagai produk muktahir dan modern.
Seorang remaja menghapus sistem nilai " bukan muhrim dilarang berpegang tangan" lalu mengubah statusnya dengan berpacaran agar dianggap temannya sebagai pribadi yang tidak jadul dan kuno.
Seorang laki-laki paruh baya rela mengikuti pedicure, creambath dll agar tetap maskulin sehingga dalam dirinya tercipta konsep sebagai pria metroseksual.
Saya jadi teringat ketika suatu waktu menjumpai teman yang notabene berasal dari daerah yang bukan perkotaan( maaf bukan bermaksud membuat dikotomi antara desa dan kota, dan kota lebih baik dan maju).
Terkesan menggelikan ketika ia berpenampilan ala changcuter namun dalam penilaian saya gaya dan penampilan tersebut tidak sesuai dengan dirinya.
Itu mungkin belum seberapa dibandingkan dengan beberapa postingan status remaja saat ini yang tanpa malu mengupdate status dengan kata-kata sumpah serapah, makian atau bahkan hujatan. Di benak mereka ternyata tidak ada lagi rasa malu bahwa apa yang mereka posting dibaca banyak orang.
Tidak hanya remaja saja yang seperti itu, saya, pun pernah mendapati salah satu friend list perempuan mengunggah fotonya dan membiarkan dadanya terbuka, mungkin saya munafik, tapi ketika saya melihat pose tersebut saya lantas meremove dari daftar friendlist, lebih parah juga ternyata.
Nilai dan moralitas  sekarang memang berubah sangat cepat, tepat seperti yang pernah diucapkan Tung Desem Waringin di salah satu seminarnya, perubahan itu cepat dan sekejab, tergantung pada orang bagaimana merubah dirinya. Orang baik bisa berubah menjadi buruk, dan yang burukpun juga bisa menjadi sebaliknya,menjadi pribadi lebih baik dan luarbiasa.
Memang kita tidak hidup di era megalithikum, semua tampak bebas. Kita harus ingat bahwa yang merubah itu adalah pengetahuan dan ilmu positif yang membuat manusia menjadi lebih well educated atau terpelajar.
Saya tidak bermaksud menghakimi bahwa orang yang tidak mempunyai " kemaluan " tersebut merupakan produk gagal dari majunya ilmu pengetahuan dan teknologi.
" Kemaluan" itu tumbuh dari hati dan pikiran, pengetahuan yang baik akan membuat kita lebih berhati-hati dalam berpikir dan merasakan, ini yang mungkin sudah tidak banyak diajarkan di sekolah, sebagai contoh tentu anda masih mengingat betul peristiwa tawuran akhir-akhir ini, yang merenggut korban jiwa. Ironis bukan? Institusi yang diharapkan para orang tua bisa mencetak generasi yang berpendidikan namun justru sebaliknya.
Kembali kepada " kemaluan ", kemaluan memang tidak diajarkan, ia akan tumbuh otomatis ketika peningkatan kadar pengetahuan dapat diterapkan dalam kehidupan. Pengetahuan tidak hanya lahir melalui sekolah, namun juga dari proses pengalaman hidup yang menyenangkan maupun yang mengecewakan.
Saya masih mengingat, ketika sebelum mencapai dan berhasil sebagai pekerja tetap abdi negara, saya juga mengalami masa tidak mempunyai kemaluan dalam hidup. Saya masih serabutan,mempunyai 1 atau 2 lembar uang limapuluh ribuan dari jerih payah sendiri terasa luarbiasa. Saat itu saya harus merasa tidak boleh malu ketika menjajakan koran dari setiap orang yang turun dari kendaraan umum, menyanyikan lagu-lagu di depan mereka yang asyik bermalam minggu di teras rumah atau bahkan ketika mengantar pesanan minyak tanah yang saya ikat di sepeda motor hadiah ibu ketika pensiun. Saya tidak boleh memiliki kemaluan untuk melakukan hal yang terbaik untuk memperkaya pengalaman, pengalaman positif maupun negatif, semua memberikan pembelajaran yang baik jika kita mengambil makna dan hikmahnya.
Proses saya tidak memiliki " kemaluan " tersebut adalah peristiwa yang sangat berarti, ibarat tangan Tuhan tengah membawa tubuh saya di tungku api cetaknya, memasukkan tubuh ini dalam jilatan api, kemudian beberapa kali ditempa, dijepit lantas diguyur dengan segala ujicoba untuk menghasilkan sebuah karya yang layak dan siap menghadapi jilatan api kehidupan yang menguras pikiran, tenaga dan perasaan, dan pada pengalaman ini juga akan terjadi pada mereka yang senantiasa melihat dan memaknai proses pencetakkan ini menjadi reka cipta manusia yang tidak mudah mengeluh dan patah arah.
Hingga detik inipun saya juga percaya bahwa saya masih berada dalam tungku Tuhan, selalu dalam proses pencetakkan hingga benar-benar matang dan indah.
Bagaimana anda memaknai proses ketika anda tidak memiliki " kemaluan ?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar